Translate this blog
English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified Thailand Vietnam Czech

Wirausaha 0 Rupiah ---------------- Kontak Jodoh Online ---------------- Wirausaha 0 Rupiah ---------------- Kontak Jodoh Online ----------------Wirausaha 0 Rupiah ---------------- Kontak Jodoh Online

Friday, August 14, 2009

Mempercayakan (Tsiqoh)

Seorang teman mengirim sebuah pesan singkat ke hape 5200 ku yang sepertinya sdah perlu diFlash supaya kembali ke settingan pabrik, soalnya game-game dan memory card sudah tak kebaca lagi. Sms itu kira-kira berbunyi demikian

“eh, aku nekat ikut mabit (malam bina iman dan taqwa), ternyata ada iuran sebesar dua ribu, dan kulihat isi dompet ternyata juga tinggal segitu”

Lalu aku pun membalasnya..

“gue suka semangat lo kayak gini, tapi… besok lo makan apa?”

Dia pun membalas dengan entengnya

“Allah Maha Kaya, Dia yang akan memberiku Rizqi tuk memenuhi kebutuhan jasmaniku besok hari”

Subhanalloh, pasrah atau emang tawakal ya..InsyaAllah tawakal. Ini berkaitan dengan buku yang baru ku baca taadi pagi mengenai “mempercayakan”. Ketika kita sudah mempercayakan sepenuhnya urusan kita (Tsiqoh) maka kita juga sudah pasrah kepaada yang kita percayakan. Seperti halnya seorang teman yag mempercayakan kepada kawannya untuk menajdi kurir surat cintanya, maka ketika dia sudah mempercayakan kepada kawannya tersebut, dia tidak aka npernah berpikiran bahwa kawannya itu akan menjaaadi tanaman yang makan pagar. Seperti halnya juga kehidupan seorang suami-istri (wah, koqnyinggung sampe situ, w e e ), ketika sudah muncul rasa “mempercayakan” maka mereka tidak akan menghujamkan pertanyaan tak berakal mengenai kecemburuan butanya.

Begitu juga ketika kita sudah “mempercayakan” kepadaAllah SWT, maka kita akan menyerahka nsegala urusan kita kepadaNya, dengan syarat kita sudah melakukan usaha semaksimal mungkin (ikhtiar), baru kemudian kita meyerahkan hasil kepada DIa Sang Penentu (tawakal) dan kita juga harus siap untuk menerima segala hasil yang akan muncul nantinya (Qona’ah). Untu itu, biaar lebih aman, maka niatan kita sebaiknya hanya utnuk ibadah, apapun yang kita lakukan kita niatkan Untuk memenuhi tanggung jawab kita sebagai makhluq. Karena Dia tidak pernah membuat kita kecewa, YAKINLAH!!!!

Thursday, August 6, 2009

mawar, lebah dan burung

Kau adalah bunga Mawar berduri yang berada di jurang. Memerlukan keberanina yang mengadu nyawa dengan kepuasan bathin untuk sampai melihatmu dari jarak dekat, dan masih ada duri yang membuatu hanya bisa di petik oleh ia yang sudah mengenalmu.

Ada seekor lebah yang sangat giat mencari bunga mawar di jurang. Segala daya upaya dia lakukan hanya untuk mencari aroma mawar yang telah menyerebak sampai ke sarang hati sang lebah. Dan akhirnya ia pun menemukanmu hai bunga, dan ia pun hanya ingin menghisap madu dari mawar itu saja, tidak yang lain…

Sang burung pun telah melayang-layang di atas jurang karena terpesona oleh pantulan cahaya matahari karena kilau kesholehahan dari sang mawar. Burung itu mencoba mendekat dan semakin dekat, dan dalam impiannya, dialah yang akan hinggap di mawar itu. Tapi ternyata sang burung melihat lebah yang telah mendekat dan berkeliling di sekitar mawar itu. Sang burung pun merasa ragu untuk mendekati mawar itu lagi..

Sang burung tidak mau memangsa lebah itu, karena ia hanya ingin sang mawar tetap mekar, biarlah sang lebah menghisap madu dari mawar itu dan menyebarkan serbuk sari kehidupan agar mawar itu tetap lestari walaupun sang burung harus menahan derita lapar karena belum. Biarlah sang burung terbang meninggalkan jurang itu untuk mencari bung yang lain karena mawar itu sudah ada yang merawat, dan sang burung terbabng bebas tuk mencari bunga lain yang ada di atas muka bumi atau pepohonan yang tersebar begitu banyak di muka bumi ini atas karuniaNya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Premium Wordpress Themes